Beberapa pemikiran philosopher

Halaman

A.    Pemikiran Dasar Para Philosopher

Francis Bacon

Francis Bacon dikenal sebagai penemu praktik metode ilmiah. Gagasan utamanya bahwa tujuan dari ilmu adalah penguasaan manusia terhadap alam. Ilmu harus mempunyai kegunaan praktis dan menambah superioritas manusia terhadap alam semesta.

Rene Descartes

Rene Descartes memiliki pemikiran bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran. Descartes menganggap diperlukannya metode yang tepat untuk menjadi dasar bagi semua pengetahuan, yaitu dengan meragukan semuanya secara metodis. Jika suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian, maka kebenaran tersebut diakui dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.

John Locke

Gagasan utama John Locke adalah teori kejiwaan yang mengatakan bahwa jiwa seseorang pada saat dilahirkan mula-mula masih bersih seperti “tabula rasa”. Semua pengetahuan berasal dari indera atau pengalaman.

David Hume

David Hume menyatakan bahwa pengetahuan bersumber pada pengalaman, bukan rasio. Pengalaman dapat bersifat lahiriah dan dapat pula bersifat batiniah. Oleh karena itu pengenalan secara inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

Immanuel Kant

Pemikiran Immanuel Kant yang mendasar adalah bahwa segala yang dapat diketahui manusia adalah yang dipersepsi dengan pancaindera, selain dari itu hanyalah ilusi saja. Pengetahuan merupakan produk dan konstruksi akal pikiran manusia.

William James

Wiliam James mempunyai gagasan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal. Kebenaran yang adalah adalah kebenaran “plural”, yaitu apa yang benar dalam pengalaman khusus yang setiap saat dapat berubah oleh pengalaman selanjutnya.

John Dewey

Salah satu pemikiran John Dewey adalah bahwa tujuan filsafat untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik untuk dunia dan sekarang. Dewey memandang pendidikan sebagai upaya yang strategis dan penting untuk kelangsungan hidup di masa yang akan datang. Dewey menawarkan konsep bahwa pendidikan harus mampu membekali peserta didik sesuai dengan kebutuhan yang ada pada lingkungan sosialnya.

B.     Analisis Kritis dan Sintesis ke Pengembangan Pendidikan Vokasi

Gagasan Francis Bacon yang menganggap ilmu harus mempunyai kegunaan praktis dan menambah superioritas manusia terhadap alam semesta merupakan dasar pemikiran yang penting untuk dipertimbangkan dalam mengembangkan pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi harus dapat memberikan ilmu dan teknologi kepada peserta didik yang dapat digunakan secara praktis dalam kehidupannya. Dengan ilmu dan teknologi yang dikuasai, peserta didik diharapkan dapat mengekplorasi berbagai potensi sumber daya untuk kemaslahatan hidup dirinya, keluarganya, dan masyarakat pada umumnya.

Pandangan Rene Descartes yang menganggap diperluannya metode yang tepat untuk menjadi dasar bagi semua pengetahuan dengan meragukan semua kebenaran secara metodis, dapat dijadikan sebagai pijakan untuk mengembangkan kreativitas berpikir peserta didik. Pengembangan pendidikan vokasi harus diarahkan pada upaya membangun kreativitas peserta didik, seingga dapat dihasilkan pengembangan dan temuan-temuan baru yang lebih bernilai.

Pemikiran John Locke yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari indera atau pengalaman merupakan gagasan yang relevan dengan konsep pengembangan pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi sebagai upaya untuk membekali peserta didik dengan keterampilan praktis harus menekankan penguasaan pengetahuan dan teknologi melalui pengalaman nyata. Proses pembelajaran yang dikembangkan harus berbasis pengalaman nyata, sehingga lulusan pendidikan vokasi memiliki kompetensi yang dapat diandalkan. Konsep tersebut juga didukung oleh pandangan David Hume yang menganggap bahwa pengenalan secara inderawi merupakan pengalaman yang paling jelas dan sempurna.

Melalui pengalaman inderawi dalam proses pembelajaran, maka akan terbangun konstruksi pengetahuan dalam diri peserta didik. Sesuai dengan pandangan Immanuel Kant, konstruksi pengetahuan yang dimiliki peserta didik melalui proses pengenalan inderawi tersebut akan memberikan kesan mendalam, sehingga penguasaan kompetensi oleh peserta didik menjadi lebih baik dan sempurna.

Mengacu kepada konsep Willian James yang menganggap bahwa apa yang benar dalam pengalaman khusus setiap saat akan berubah oleh pengalaman selanjutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi setiap saat mengalami perkembangan. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan vokasi harus senantiasa di-update mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi agar tidak out of date. Relevansi kurikulum dengan perkembangan ilmu dan teknologi mutakhir akan berdampak kepada daya saing lulusan. Hal ini juga sesuai dengan pandangan John Dewey yang mengatakan bahwa pedidikan harus mampu membekali peserta didik dengan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan sosialnya.

C.    Rumusan Prinsip-Prinsip Dasar Pengembangan Pendidikan Vokasi

Berdasarkan pandangan para filsuf yang dikaitkan dengan konsep pendidikan vokasi, maka terdapat beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam pengembangan pendidikan vokas, yaitu:

  1. Pendidikan vokasi harus dapat memberikan ilmu dan teknologi kepada peserta didik yang dapat digunakan secara praktis dalam kehidupannya.
  2. Pengembangan pendidikan vokasi harus diarahkan pada upaya membangun kreativitas peserta didik.
  3. Proses pembelajaran pendidikan vokasi harus berbasis pengalaman nyata, sehingga peserta didik memiliki kompetensi yang dapat diandalkan.
  4. Kurikulum pendidikan vokasi harus senantiasa di-update mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi yang mutakhir.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s